
Artikel ini membahas kebijakan baru terkait GoTo yang menetapkan komisi aplikator menjadi 8%, dampaknya terhadap harga saham GoTo, profitabilitas perusahaan, serta potensi akuisisi oleh Grab. Analisis mendalam juga mencakup risiko jangka pendek dan jangka panjang bagi investor dan driver, serta strategi bisnis GoTo ke depan.
Belakangan ini, pasar modal Indonesia digemparkan oleh dua kebijakan pemerintah yang berdampak signifikan, salah satunya adalah kebijakan terkait GoTo dan aplikator ojek online lainnya. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengumumkan bahwa keuntungan aplikator hanya boleh sebesar 8%, sementara 92% sisanya harus diberikan kepada driver. Kebijakan ini menimbulkan reaksi pasar yang cukup drastis, terutama pada harga saham GoTo.
Setelah pengumuman kebijakan tersebut, harga saham GoTo yang sempat naik ke level Rp57-58 kembali turun ke Rp50. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah harga Rp50 tersebut adalah titik terendah atau masih bisa turun lagi. Ada juga spekulasi bahwa kebijakan ini bisa menjadi peluang bagi investor retail untuk mendapatkan saham multi-bagger.
Dalam diskusi mengenai kebijakan ini, terdapat beberapa sudut pandang etika bisnis yang perlu dipertimbangkan:
Kebijakan ini tampaknya merupakan kombinasi dari utilitarianisme dan keadilan, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan driver, meskipun berdampak negatif pada investor lama.
Dalam jangka pendek, kebijakan ini meningkatkan komisi untuk driver, yang merupakan kelompok terbesar dengan jumlah mencapai 5-6 juta orang. Namun, investor yang sudah lama menanamkan modal di GoTo mengalami kerugian karena penurunan harga saham.
Jika kebijakan ini menyebabkan perusahaan mengalami kerugian besar hingga tutup, maka driver juga akan kehilangan pekerjaan. Oleh karena itu, meskipun saat ini driver mendapatkan komisi lebih besar, risiko jangka panjangnya adalah kehilangan sumber penghasilan jika GoTo bangkrut.
GoTo memiliki tiga lini bisnis utama:
Penurunan komisi dari 20% menjadi 8% pada layanan ODS diperkirakan akan menurunkan pendapatan GoTo sekitar Rp2,4 triliun per kuartal. Untuk mengimbangi penurunan ini, GoTo harus meningkatkan Gross Transaction Value (GTV) hingga 4-5 kali lipat atau mengembangkan lini bisnis fintech secara signifikan.
Bisnis fintech GoTo menunjukkan potensi pertumbuhan yang baik dengan jumlah pengguna GoPay mencapai 27,5 juta dan tingkat pengembalian pinjaman yang tinggi (92% tepat waktu). Dengan pertumbuhan pinjaman sekitar 14% per tahun, fintech bisa menjadi motor penggerak pendapatan baru bagi GoTo.
Pada kuartal pertama 2026, GoTo mencatat laba bersih sekitar Rp258 miliar, yang merupakan keuntungan pertama sejak IPO pada 2021. Namun, keuntungan ini masih kecil dibandingkan dengan kerugian kumulatif yang mencapai lebih dari Rp100 triliun sejak 2021.
Terdapat rumor bahwa Grab tertarik mengakuisisi GoTo. Namun, berdasarkan analisis keuangan, Grab memiliki kas sekitar US$2,9 miliar (sekitar Rp48 triliun), sementara market cap GoTo sekitar Rp57 triliun. Ini berarti Grab perlu pendanaan tambahan untuk mengakuisisi GoTo secara penuh. Alternatifnya adalah mengambil saham mayoritas secara bertahap atau menjadi pemegang saham minoritas terbesar.
Grab memiliki pendapatan tahunan sekitar US$3,8 miliar dengan EBITDA sekitar US$1 miliar, yang setara dengan Rp17 triliun. Grab sudah mencatat keuntungan sejak kuartal ketiga 2024, sementara GoTo baru mencatat keuntungan pada kuartal pertama 2026. Namun, Return on Assets (ROA) Grab masih rendah sekitar 1,6%, yang membuat harga sahamnya juga belum mengalami kenaikan signifikan.
Harga saham GoTo saat ini berada di Rp50, yang dianggap sebagai titik support. Namun, risiko tetap ada jika volume perdagangan menurun atau harga saham turun di bawah Rp50, yang dapat menyebabkan saham masuk kategori Forced Close Auction (FCA).
Investor dengan profil risiko konservatif disarankan berhati-hati, sementara investor prioritas yang memiliki akses lebih baik ke likuiditas dapat memanfaatkan peluang jual beli saham dengan risiko lebih rendah.
Kebijakan baru yang membatasi komisi aplikator menjadi 8% membawa dampak signifikan bagi GoTo, baik dari sisi harga saham maupun profitabilitas perusahaan. Meskipun menguntungkan driver dalam jangka pendek, kebijakan ini berpotensi menimbulkan risiko bagi keberlangsungan perusahaan dan pekerjaan driver dalam jangka panjang.
GoTo perlu mengembangkan lini bisnis fintech dan meningkatkan volume transaksi secara signifikan untuk mengimbangi penurunan pendapatan dari komisi. Rumor akuisisi oleh Grab masih belum pasti dan memerlukan pendanaan tambahan.
Investor harus mempertimbangkan risiko dan peluang dengan cermat, terutama terkait harga saham yang saat ini berada di level Rp50.
Artikel ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai situasi terkini GoTo, kebijakan pemerintah, dan implikasinya bagi berbagai pemangku kepentingan di pasar modal Indonesia.
Paste a YouTube link and let Magica create the key takeaways.
Summarize another video