
Suku Tengger, yang mendiami dataran tinggi di sekitar Gunung Bromo, memiliki hubungan yang erat dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan. Melalui tradisi dan upacara adat, mereka menjaga keseimbangan lingkungan dan melestarikan kearifan lokal, termasuk konservasi tanaman edelweis yang sakral bagi mereka.
Suku Tengger adalah komunitas yang mendiami dataran tinggi di sekitar pegunungan Bromo dan Semeru, Jawa Timur. Mereka dikenal karena hubungan harmonis yang mereka jalin dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Tengger sangat menghargai dan menjaga kesakralan Gunung Bromo, yang memiliki makna mendalam bagi mereka.
Nama Tengger berasal dari kisah Rara Antang, seorang putri dari kerajaan Majapahit, yang berlindung di wilayah penanjakan Gunung Bromo saat kerajaan tersebut mengalami pergolakan. Di sana, ia bertemu dengan Joko Seger, seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Penggabungan nama keduanya melahirkan nama suku Tengger yang kita kenal hingga saat ini.
Masyarakat Tengger memiliki kepercayaan yang kuat bahwa kehidupan saat ini berkaitan erat dengan timbal balik antara kehidupan di dunia dan kehidupan setelahnya. Kepercayaan ini mendorong mereka untuk menjaga alam dan melestarikan lingkungan. Setiap kegiatan upacara adat yang mereka lakukan mencerminkan pola hidup yang berusaha menjaga keseimbangan alam.
Masyarakat Tengger umumnya memiliki ladang yang diwariskan dari leluhur mereka. Di setiap ladang, terdapat tanaman yang digunakan dalam upacara adat, seperti:
Tanaman-tanaman ini tidak hanya berfungsi sebagai bahan upacara, tetapi juga memiliki makna yang dalam. Misalnya, edelweis, yang dikenal sebagai tanah layu, dianggap sakral dan digunakan dalam berbagai upacara. Masyarakat Tengger berusaha untuk tidak mengambil tanaman ini dari kawasan yang dilindungi, melainkan membudidayakannya agar tetap lestari.
Uli, seorang warga Tengger, menjelaskan bahwa konservasi tanaman edelweis merupakan bagian dari filosofi hidup mereka. Tanaman ini tidak hanya indah, tetapi juga menjadi sarana untuk melaksanakan upacara. Masyarakat Tengger percaya bahwa dengan menjaga alam, mereka juga menjaga hubungan dengan Tuhan. Setiap upacara yang mereka lakukan melibatkan permohonan kepada Tuhan agar alam selalu bersinergi dengan kehidupan mereka.
Masyarakat Tengger juga aktif dalam menjaga kebersihan kawasan penanjakan Gunung Bromo, yang merupakan tujuan wisata populer. Mereka membentuk paguyuban yang bertugas membersihkan area tersebut secara rutin. Setiap warung di kawasan itu memiliki jadwal untuk membersihkan sampah, sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan alam tanpa terganggu oleh sampah.
Dua wisatawan asal Amerika Serikat, Mich dan Draw, mengungkapkan bahwa meskipun masih ada sampah yang dibuang sembarangan, mereka merasa kebersihan kawasan Bromo terjaga dengan baik.
Suku Tengger, seperti suku-suku lain di Indonesia, memiliki kearifan lokal yang unik. Tugas kita sebagai masyarakat adalah menjaga dan melestarikan kearifan lokal tersebut. Melalui tradisi dan upacara adat, masyarakat Tengger tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat identitas budaya mereka.
Suku Tengger adalah contoh nyata dari masyarakat yang hidup selaras dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan. Melalui upaya pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap tradisi, mereka menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan alam adalah bagian integral dari kehidupan mereka. Dengan demikian, Suku Tengger tidak hanya melestarikan budaya mereka, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan di sekitar mereka.
Paste a YouTube link and let Magica create the key takeaways.
Summarize another video